11 UMKM Binaan Jakarta Kantongi 18 LoI dengan Potensi Transaksi Ekspor 2,625 Juta Dolar AS
JAKARTA - Sebanyak 11
usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM) binaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berhasil memperoleh 18 surat pernyataan minat (Letter of Intent/LoI) dengan potensi transaksi ekspor sebesar 2.625.000 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp46,94 miliar.
Ke-18 LoI tersebut diperoleh dari calon pembeli (buyer) asal Jepang, Belanda, Vietnam, Malaysia, dan Kamerun dalam kegiatan Business Matching Ekspor 2026 bertema: Jakarta to Global Market – Business Matching & Buyer Connect yang digelar Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta di Hotel Swiss-Belinn Kemayoran, Selasa (13/10/2026).
Kepala Dinas PPKUKM DKI Jakarta Elisabeth Ratu Rante Allo mengatakan, pertemuan bisnis tersebut menjadi kesempatan bagi pengusaha UKM
untuk mempromosikan produk sekaligus membuka peluang kerja sama di pasar mancanegara.
"Melalui business matching
ini kami ingin pengusaha UKM Jakarta bisa membangun kepercayaan, memahami kebutuhan pasar, dan
membuka peluang kerja sama yang berkelanjutan," ucap Ratu dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Potensi transaksi tersebut berasal dari lima negara tujuan, yakni Kamerun sebesar 1 juta dolar AS, Belanda sebesar 750.000 dolar AS, Jepang sebesar 735.000 dolar AS, Vietnam sebesar 120.000 dolar AS, dan Malaysia sebesar 50.000 dolar AS.
Ratu mengingatkan bahwa LoI merupakan pernyataan minat awal dan belum berarti transaksi jual-beli telah terjadi.
"Setelah penandatanganan, kedua pihak masih perlu membahas sejumlah hal, mulai dari spesifikasi produk, jumlah pesanan, harga, dan
pengiriman sampel hingga persyaratan pengiriman ke negara tujuan," tuturnya.
Ia juga meminta para pengusaha UKM yang masih dalam tahap penjajakan untuk terus memperbaiki produk dan memanfaatkan masukan dari calon pembeli. Menurutnya, memasuki pasar ekspor
membutuhkan kesiapan produk dan proses yang tidak selalu singkat.
"Untuk UKM yang belum memperoleh LoI dalam kegiatan kali ini, tentu kami mengharapkan agar
mereka bisa terus berinovasi. Menyesuaikan produk- produk
mereka dengan permintaan pasar domestik dan mancanegara, agar kelak bisa memperoleh kesempatan yang sama," kata Ratu.
Produk yang menarik minat calon pembeli mancanegara dalam kegiatan ini beragam, mulai dari makanan
dan
minuman, produk
fesyen, wellness atau perawatan alami, hingga kriya.
"Dari keseluruhan LoI yang tercipta, kategori makanan dan minuman mendominasi dengan 10 LoI, disusul produk
fesyen sebanyak empat LoI, serta produk
wellness dan kriya masing-masing dua LoI," papar Ratu.
Sejumlah produk
pangan yang
menarik minat calon pembeli antara lain buah segar dan buah kering, produk siap saji berbahan oat, ikan asin, jelly, saus kacang, dan sambal. Potensi transaksi untuk produk-produk
tersebut berkisar antara 50.000 hingga 200.000 dolar AS per produk. Sementara
itu, produk
minyak Tamanu dari kategori perawatan alami mencatat potensi transaksi sebesar 125.000 dolar AS.
Selain itu, produk propolis menarik minat calon pembeli dari Kamerun
dengan potensi transaksi sebesar 1 juta dolar AS. Produk fesyen berupa mukena
dan hijab juga memperoleh minat dari calon pembeli di Belanda dan Malaysia.
Melalui Pembinaan Sebelum Bertemu Pembeli
Capaian tersebut merupakan hasil dari rangkaian pembinaan yang berlangsung sejak Agustus
2026.
Sebanyak 57 pengusaha UKM
mengikuti Bimbingan Teknis Peningkatan Kualitas Produk Ekspor pada 31
Agustus 2026 di Hotel Tavia The Heritage, Jakarta Pusat.
Dari peserta tersebut, 40 pengusaha UKM terpilih mengikuti pendampingan yang berlangsung selama sekitar satu bulan. Program pendampingan dimulai pada 14 September 2026.
Materi yang diberikan mencakup peningkatan mutu produk, standardisasi dan sertifikasi, kemasan ekspor, pemasaran digital, penghitungan biaya dan penetapan harga, dokumen kepabeanan, serta teknik negosiasi dengan calon pembeli.
Pendampingan dilakukan secara daring dan tatap muka, termasuk di Jakarta Creative
Hub pada 24–25 September
2026.
Setelah mengikuti rangkaian tersebut, para peserta dipertemukan dengan calon pembeli melalui kegiatan business matching.
Ratu memahami bahwa hasil yang diperoleh setiap
UKM tidak sama. Ada yang sudah mendapatkan
LoI, ada yang masih menjajaki kerja sama, dan ada pula yang belum menemukan calon pembeli yang sesuai dengan produknya.
"Kami berharap pendampingan ini membantu semakin banyak UKM Jakarta menembus pasar internasional," pungkas Ratu.