Asia Food & Ecosystem Summit Bahas Penguatan Ekosistem Pangan dan Produk Lokal untuk Pasar Global
JAKARTA, 17 September 2026 — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) mendorong penguatan produk lokal melalui pengembangan ekosistem usaha yang menghubungkan perdagangan, pariwisata, gastronomi, serta rantai pasok secara berkelanjutan. Upaya tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Asia Food & Ecosystem Summit melalui dua diskusi panel yang mengangkat potensi komoditas pangan Indonesia dan pengembangan gastronomi sebagai bagian dari kekuatan ekonomi yang berorientasi pada pasar global.
Pembahasan mengenai komoditas pangan Indonesia berlangsung dalam Diskusi bertajuk “Indonesian Tuna: Sustainable, Traceable & Ready for the Global Market”. Panel tersebut menghadirkan Erwin Dwiyana, Plt. Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI; Ilham Alhaq, Technical & Management Support AP2HI; Guan Yibo, Deputy Secretary General China Fisheries Association; Hirmen Syofyanto, Program Direktur Marine Stewardship Council di Indonesia (MSC); serta Helwijaya Marpaung, Ketua Tim Kerja Pemetaan dan Analisis Pasar Luar Negeri Ditjen PDSPKP. Diskusi dimoderatori oleh Dr. Fetty Kwartati, Direktur Eksekutif HIPPINDO.
Dalam panel
tersebut, Erwin Dwiyana menyampaikan bahwa pertumbuhan populasi berimplikasi
terhadap peningkatan kebutuhan pangan. Sejalan dengan hal tersebut, pengelolaan
sektor kelautan dan perikanan diarahkan melalui lima kebijakan ekonomi biru,
yaitu perluasan kawasan konservasi laut, penerapan penangkapan ikan terukur
berbasis kuota, pengembangan budi daya perikanan berkelanjutan, pengawasan dan
pengendalian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta penanganan sampah
plastik melalui keterlibatan nelayan.
Selain
kebijakan ekonomi biru, disampaikan pula sejumlah program prioritas nasional,
antara lain pembangunan 5.000 kampung nelayan merah putih, revitalisasi 14.000
hektare tambak pesisir Pantai Utara Jawa, pengembangan 2.000 hektare tambak
udang terintegrasi, pengembangan 40.000 lokasi budi daya ikan berbasis desa
tematik, pengadaan 4.582 kapal penangkap ikan modern, serta pengembangan 2.000
hektare kawasan garam untuk mendukung swasembada garam nasional.
Dari sisi
perdagangan, tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki posisi
penting dalam perdagangan global. Helwijaya Marpaung menyampaikan bahwa tuna
merupakan komoditas perdagangan terbesar ketiga secara global. Indonesia
tercatat sebagai salah satu produsen tuna terbesar, namun berada pada posisi
kelima sebagai negara eksportir setelah Thailand dan Ekuador. Pada 2025, tujuan
utama ekspor tuna Indonesia mencakup kawasan ASEAN, Amerika Serikat, Jepang,
Uni Eropa, dan Timur Tengah. Nilai ekspor tuna Indonesia pada 2025 mencapai
1,04 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan ekspor sebesar 9,8 persen per tahun
sejak 2021.
Dalam
pembahasan tersebut, sejumlah tantangan ekspor tuna Indonesia turut
diidentifikasi, meliputi keterbatasan promosi dan informasi pasar, penolakan
produk, semakin ketatnya regulasi impor, harga yang kurang kompetitif,
ketergantungan terhadap komoditas, serta ketergantungan terhadap pasar
tradisional. Strategi yang dibahas untuk merespons tantangan tersebut mencakup
penguatan pasar tradisional melalui negosiasi, diplomasi perdagangan dan
hubungan bilateral, diversifikasi pasar ekspor, pengembangan hilirisasi dan
nilai tambah produk, penguatan merek, serta promosi ekspor.
Pemenuhan
standar dan persyaratan pasar internasional juga menjadi bagian penting dalam
pengembangan daya saing produk perikanan. Dukungan yang dibahas meliputi
sertifikasi mutu, pengendalian kualitas, serta pendampingan dan peningkatan
kapasitas pelaku usaha. Sistem STELINA turut menjadi bagian dari pembahasan
sebagai upaya untuk memenuhi standar ekspor, menyediakan data di sepanjang
rantai pasok, serta mendukung penerimaan produk Indonesia di pasar luar negeri.
Ilham Alhaq
menjelaskan bahwa rantai pasok tuna melibatkan berbagai pemangku kepentingan,
mulai dari pembeli, penyusun standar, pemerintah, perusahaan, asosiasi, hingga
nelayan. AP2HI mendorong pengembangan tuna Indonesia yang berkelanjutan,
bertanggung jawab, dan terlacak dengan memperhatikan kesejahteraan masyarakat
pesisir. Sejak 2014, berbagai inisiatif dan standar telah dikembangkan,
termasuk melalui skema MSC dan fair trade, yang melibatkan sekitar
30.000 nelayan serta lebih dari tiga sertifikasi global. Tantangan pengembangan
ke depan mencakup investasi untuk keberlanjutan, sertifikasi, kualitas data,
dan pengakuan pasar.
Aspek
keberlanjutan dan ketertelusuran dinilai semakin relevan dalam perdagangan
produk perikanan. Konsumen dan pasar internasional semakin memperhatikan asal
produk, sementara persyaratan perdagangan juga menuntut transparansi pada
rantai pasok. Oleh karena itu, pemenuhan standar keberlanjutan, ketertelusuran,
dan kualitas menjadi bagian dari kesiapan produk perikanan Indonesia untuk
bersaing di pasar global.
Selain
membahas sektor perikanan, Asia Food & Ecosystem Summit mengangkat
keterkaitan antara kekayaan kuliner lokal dengan perdagangan dan pariwisata
melalui Diskusi bertajuk “From Local Heritage to Global Business: Connecting
Trade, Tourism & Culinary Economy”. Panel tersebut menghadirkan Rama
Auwines, Wakil Ketua Umum HIPPINDO dan Sekretaris Jenderal ATTEC; Vita Datau,
Founder Indonesia Gastronomy Network; serta Indriani D. Laratu, Analis
Kebijakan di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Dalam diskusi
tersebut, gastronomi dipandang tidak hanya sebagai pengalaman kuliner, tetapi
juga sebagai bagian dari ekosistem pariwisata dan kekuatan ekonomi yang
memiliki peluang untuk dikembangkan di pasar global. Pengembangan gastronomi
membutuhkan keterhubungan antara petani, nelayan, produsen pangan, pelaku UMKM,
hotel, restoran, koki, dan sektor pariwisata. Keterhubungan tersebut
memungkinkan kuliner menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus
memperkenalkan budaya, bahan lokal, proses produksi, masyarakat, dan karakter
suatu destinasi.
Kekayaan
kuliner Indonesia juga memiliki potensi untuk dikembangkan melalui penguatan
narasi dan identitas produk. Produk kuliner dapat dikemas tidak hanya sebagai
komoditas, tetapi sebagai bagian dari cerita dan pengalaman budaya. Pendekatan
tersebut membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah, termasuk produk
oleh-oleh dan produk kuliner yang dapat memperluas nilai ekonomi dari kekayaan
kuliner lokal.
Dalam diskusi
turut dibahas pembelajaran dari Korea yang mengintegrasikan makanan, budaya,
pariwisata, dan industri kreatif melalui narasi yang kuat. Pendekatan tersebut
menjadi gambaran mengenai pentingnya pengembangan identitas lokal yang kemudian
dikemas dengan standar dan strategi yang berorientasi pada pasar global, tanpa
menghilangkan karakter budaya yang menjadi identitas produk.
Penguatan ekosistem gastronomi memerlukan kolaborasi lintas sektor antara kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta sektor pertanian dan perikanan. Setiap sektor memiliki peran dalam memastikan ketersediaan bahan baku, membuka akses pasar, membangun identitas produk, serta meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Pendampingan juga diperlukan untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas, memperluas akses pasar, membangun kemitraan, serta membuka peluang investasi dan permodalan.
Rangkaian
pembahasan dalam Asia Food & Ecosystem Summit menunjukkan bahwa
pengembangan produk lokal untuk pasar global membutuhkan pendekatan yang
terintegrasi. Pada sektor perikanan, keberlanjutan, ketertelusuran, kualitas,
sertifikasi, dan penguatan rantai pasok menjadi aspek yang perlu diperhatikan.
Sementara pada sektor gastronomi, kekayaan kuliner dan warisan budaya perlu
dihubungkan dengan perdagangan, pariwisata, pengembangan produk, serta strategi
yang berorientasi pada pasar global.
Melalui penguatan keterhubungan antarsektor dan kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, pelaku usaha, nelayan, petani, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya, potensi pangan dan produk lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang memiliki nilai tambah. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang mendukung keberlanjutan, penguatan daya saing, dan perluasan akses pasar bagi produk Indonesia.
“Kekuatan produk lokal tidak hanya terletak pada kekayaan sumber daya dan warisan yang dimiliki, tetapi pada kemampuan kita membangun ekosistem yang menjadikannya berkelanjutan, bernilai tambah, dan mampu terhubung dengan pasar global,” ujar Ratu.